Jumat, 10 Juli 2009

Komposisi Foto (Bagian III) : Teknik Umum

(Beberapa pernyataan berdasarkan “Composition III by Gloria Hopkins”, disini)

1. Depth of Field (DOF) : Mengesankan 3 (tiga) Dimensi


Cara mudah untuk mendapatkan DOF yang maksimal –dalam fotografi landscape adalah dengan menggunakan Aperture Value yang lebih kecil, misalkan : F/16 atau F22. sedangkan untuk F5.6 atau lebih kecil / besar sedikit –digunakan untuk keperluan fotografi portrait. Dan selanjutnya anda tinggal fokus ke bagian yang ingin anda ekspos. Level dari depth / kedalaman itu sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) bagian :

a. Foreground : Tempat dimana kita meletakkan obyek atau garis-garis yang mengarahkan mata lebih dalam ke sebuah foto.

b. Middleground : Space yang berada diantara foreground dan background. Dalam beberapa kondisi tertentu, middleground digunakan sebagai tempat untuk meletakkan posisi subyek utama. Dan obyek di posisi ini harus dalam kondisi fokus (sharp), sementara kondisi foreground dan background adalah softly blurred.

c. Background : Tempat atau posisi paling dalam (belakang) dalam sebuah foto. Secara umum, background haruslah merupakan bagian daripada subyek itu sendiri.

2. Format Vertikal atau Horisontal

Ketika kita mengambil foto dengan format horisontal atau vertikal, masing-masing memiliki efek akhir yang berbeda –tergantung dengan situasi yang ingin kita tampilkan. Saran sederhana adalah selalu ambil foto dengan 2 (dua) format, jadi selanjutnya anda bisa memilih –mana yang lebih anda suka.


3. Viewpoint / Angle

Jika anda menemukan subyek statis yang memiliki background yang anda anggap kurang menarik, baiknya anda menggunakan viewpoint yang berbeda dari semula guna me-re-komposisi background sedemikian, sampai anda puas dengan yang akan anda sajikan. Namun hati-hati, penampakan subyek awal juga bisa berubah akibat perpindahan viewpoint.

Setelah anda ‘deal’ dengan viewpoint yang bersifat umum, cobalah untuk mengambil viewpoint yang bersifat ekstrim. Misalnya dengan menggunakan lensa wide, kemudian viewpoint diambil dari bawah, maka anda akan mendapatkan perspektif yang mengerucut keatas. Teknik ini cocok digunakan untuk menampilkan seseorang dalam foto agar menjadi ‘Angel / malaikat’ –yang memiliki kaki lebih besar dari ukuran normal, dan sebagainya. Usahakan anda lebih kreatif untuk menemukan banyak viewpoint yang lebih unik dan ekstrim.


4. Using Diagonal!!

Sebenarnya penggunaan diagonal adalah cara saya untuk melarikan diri dari kejaran formalitas –yang seringkali saya anggap ‘stuck’. Jadi ketika saya sedang mengambil obyek dan saya tidak dapat menemukan ‘feel’ untuk komposisi terbaiknya, maka sebagai pelarian, saya seringkali memiringkan viewfinder dan mengambil foto ‘miring’ tersebut. And it works, kadang-kadang komposisi ini terlihat lebih cantik dari biasanya (menurut saya).

5. (Permainan) Skala

Sebuah foto sederhana akan tampak mengejutkan jika didalamnya mengandung spot tertentu yang menarik perhatian. Dalam fotografi landscape, cobalah untuk memainkan obyek-obyek yang memiliki perbedaan ukuran –sedemikian rupa, hingga menghasilkan perbandingan skala yang menarik.

6. Cropping dan Framming

Cara mudah untuk melakukan framming adalah dengan melihat pada viewfinder seutuhnya. Setelah itu selalu lihat sudut-sudutnya, apakah disitu terdapat spot-spot pengganggu atau tidak. Dapatkah anda mendekati obyek tersebut? Bagaimana dengan zoom?? Apakah foto tersebut kelihatan bagus jika upright atau landscape?? Semua terserah anda asal jangan seperti foto dibawah ini.

Keinginan saya pada waktu itu adalah memotret –teman yang juga sedang memotret gunung. Namun karena kecerobohan, mungkin karena rasa takut jatuh (saya lupa), saya melakukan framming asal-asalan. Sehingga mengakibatkan teman saya terlihat jauh dan kecil sekali.

7. KISS..!!

Adalah sebuah saran dari teman (Abdul Azhim) untuk tidak merasa terganggu oleh banyaknya spot yang menarik perhatian dalam satu frame. Jadi cukup ambil satu spot saja dan ekspos!! Keep It Simple Stupid..!!

0 comments: