Kamis, 09 Juli 2009

Komposisi Foto (Bagian II) : Prinsip dan Aturan

Beberapa ‘prinsip komposisi’ dibawah ini adalah hanya sebatas panduan untuk membentuk komposisi foto, bukan untuk dijadikan sebagai aturan yang mengikat kebebasan pengamatan dan toleransi seorang fotografer. Hanya sebatas pengetahuan dasar agar dapat menjadi batu loncatan bagi anda untuk meningkatkan ‘personal taste’ anda sendiri. Karena sejatinya, insting alami-lah yang menjadikan sebuah foto tampak lebih hidup, bukan sebuah / beberapa aturan yang minta untuk ditepati.

Namun bagaimanapun juga, anda harus tahu disiplin awal berfotografi sebelum anda berniat untuk ‘merusak’-nya. (hanya jika anda benar-benar punya alasan kuat, kenapa harus melakukannya).

1. BULL'S EYE COMPOSITION.

Sebuah komposisi dimana subyek utama ditempatkan –tepat di tengah-tengah frame. Bagi sebagian fotografer menganggap komposisi ini sangatlah buruk, jadi sekali lagi jika anda benar-benar punya alasan kuat untuk melakukannya, kenapa tidak??

Dengan subyek utama berada di tengah-tengah frame, mata yang memandang akan terpaku disana, dengan mengesampingkan obyek atau item lain yang kemungkinan berada disekelilingnya. Mata akan lebih cepat lelah dan segera menghilangkan rasa ketertarikan dari foto tersebut. Apakah anda menginginkan hal ini?? Terserah, asal anda tahu tujuan dasar sebuah foto itu dibuat –adalah untuk menarik perhatian orang agar menikmatinya dan ‘berbicara’ padanya.

NB : There’s nothing to debate with this rule. If tou’re not dealing with it, so go off!!

2. RULE OF THE THIRD

(lihat review saya mengenai ‘POI’)

3. IMPLIED LINES (Garis Bantu / imaji)

Adalah sebuah garis bantu atau imaji yang berfunsi untuk ‘mengikat’ seluruh item didalam frame, atau bisa disebut sebagai garis acuan untuk membentuk alur sebuah foto.

a. Vertikal >> menunjukkan ketinggian, ‘gengsi’, kekuatan dan kebesaran. Garis vertikal ini dapat dijumpai di pepohonan, gedung bertingkat, pagar, orang-orang yang berdiri, pegunungan, dsb. Sebuah gedung bertingkat menunjukkan ketinggian, kekuatan, gengsi dan kebesaran. Begitupula pohon menunjukkan ketinggian dan kekuatan, dan sebagainya.

b. Horisontal >> menggambarkan ketenangan, keheningan dan kedamaian, seperti rasa yang akan timbul ketika kita berbaring –melepas lelah di rerumputan, kesan yang disampaikan bunga / tanaman di halaman rumah, atau ‘flatness’ yang ditunjukkan oleh pemandangan di danau, pantai, gurun.

c. Diagonal >> memberikan rasa atau sensasi yang baru, yaitu : kekuatan, energi dan pergerakan. Seperti hembusan angin yang menerpa pohon, pergerakan yang dibentuk seorang sprinter, kelandaian dari suatu pegunungan, dsb.

d. Kurva >> adalah simbol kecantikan dan daya tarik. Cantoh yang paling sempurna adalah lekuk tubuh seorang gadis –yang mengandung banyak unsur garis dan kurva.

e. Kurva – S >> adalah simbol kekuatan dan daya tarik, yang bersifat elastis dan berubah-ubah. Memiliki keanggunan dan keseimbangan yang sempurna. Kurva – S adalah bentuk kesempurnaan sebuah kurva, yang biasa disebut “Line of Beauty”.

f. Leading >> secara sederhana, dapat dikatakan sebagai garis arah, seperti : jalan, garis pantai, garis sungai –dari hulu ke hilir. Secara teknis adalah garis yang mengarahkan mata kedalam image dan mengantarkannya dari subyek utama ke Point of Interest (link).

4. IMPLIED FORM

Gabungan dari garis-gari bantu / imaji yang menciptakan sebuah ‘bentuk’. Sebuah ‘bentuk’ yang membuat mata menjadi betah untuk memandangnya, dan menimbulkan rasa ke-‘ingin tahu’-an lebih banyak dan detil.

a. Lingkaran >> dibentuk dari kurva yang menutup. Tentu saja banyak obyek di alam yang memiliki bentuk dasar ’lingkaran’.

b. Segitiga / Piramida >> bentuk dasar yang solid –yang menunjukkan stabilitas, dimana merupakan gabungan unsur kekuatan dan ketinggian.

c. Radii >> adalah titik potong dari garis-garis bantu / imaji. Contoh sederhana adalah jari-jari roda. Dan memiliki dua makna arah : menuju ke pusat atau menuju keluar –meninggalkan Point of Interest.

d. Cross >> menunjukkan adanya kekuatan yang berlawanan, dimana akan memberikan nuansa kohesi dan hubungan antar item dalam frame.

e. Segi Empat >> digunakan untuk menonjolkan obyek yang dianggap penting. A frame within a frame. Menjaga mata agar tidak meninggalkan obyek penting / utama.

5. WARNA

Warna dapat membantu menegaskan komposisi foto dengan mendeskripsikan atensi yang terjadi pada subyek dan obyek. Pada prinsipnya, pandangan mata akan bergerak dari warna daerah terang menuju ke warna daerah yang lebih gelap.

a. Value / Nilai Warna
Nilai warna bergantung pada faktor intensitas, tingkat ke-’terang’-an dan kepekatan. Warna dengan value –baik tinggi atau rendah akan mengesankan suasana hangat atau dingin, advancing atau receding. The ’longer wavelengths’ dari merah ke kuning, biasanya untuk menggambarkan suasana hangat, kuat dan advancing / futuristik. Sementara ’shorter wavelengths’ dari hijau ke biru, akan menimbulkan kesan dingin, lemah dan receding / kuno (warna yang telah pudar). Pemberian warna pastel digunakan untuk menggambarkan ketenangan dan ’moody’, sedangkan warna yang lebih pekat untuk menggambarkan kekuatan dan ’active’. Bagaimanapun juga, diferensasi warna yang ditimbulkan hendaklah menjauhi tingkat kekontrasan yang tinggi, agar tercipta harmonisasi.

b. Hue / Corak Warna
Pasangan atau gabungan warna secara ilmiah, artinya sesuai dengan ukuran atau ’takaran’ perbandingan antara masing-masing warna. Yang termasuk Primay Hues adalah Merah, Kuning, Hijau dan Biru, sedangkan Oranye, Biru-kehijauan, Violet adalah Secondary Hues.

c. Complimentary Colours
Adalah warna yang saling berlawanan, namun akan saling menjadi pelengkap / pengisi ketika digabungkan di dalam sebuah frame. Misalkan : Merah berlawanan dengan Hijau, Oranye berlawanan dengan Biru, dan Kuning berlawanan dengan Violet. Warna-warna tersebut adalah Complimentary Colours yang dapat digunakan untuk menciptakan harmonisasi warna terbaik. Misalkan : Sebuah kandang yang berwarna merah diantara hijaunya rumput, langit yang memiliki warna Biru dan Oranye di saat yang bersamaan ketika matahari tenggelam,.dsb.

0 comments: