Selasa, 07 Juli 2009

Angels and Demons

Columbia Picture and Imagine Entertainment

Director : Ron Howard
Writers : Akiva Goldsman and David Koepp
Release date : 15 May 2009 (Indonesia)
Genre : Drama-mystery (semi-Thriller)
Cast : Tom Hanks (Robert Langdon)
Ewan McGregor (Carmelengo)
Ayelet Zurer (Vittoria Petra)

Score : 4 dari 10

Ini adalah film yang paling saya tunggu sejak era “Da Vinci Code” berakhir. Kenapa?? Di luar konteks ke-agama-an yang disinggung, saya juga merindukan suatu film konspirasi yang berkualitas, (misal : “Manchurian Candidates”,etc). Dan kontan saja, sejak film “Da Vinci Code”, sudah tidak ada lagi film konspirasi yang muncul. Namun rasa penasaran untuk menonton premiere –film ini terpaksa pudar setelah mendapat bocoran dari teman, bahwa “Angels and Demons” tidak lebih bagus dari “National Treasure”.

Sekarang, setelah saya tonton film ini, Angel and Demons, komentar saya hanya satu, ternyata teman saya salah. Film ini memang tidak lebih bagus dari ”National Treasure”, tetapi jauh lebih buruk. Bahkan terkesan ’nggak niat’ atau hanya sekedar numpang popularitasnya ”Da Vinci Code”.

Jika anda punya keinginan untuk menonton filmnya, sebaiknya anda urungkan saja niat anda –sebelum anda tercebur dalam situasi ’pembodohan rakyat’, lebih baik baca saja novelnya. Film ini tidak penting untuk ditonton, bahkan untuk dibuat sekalipun, kalau hasilnya cuma bertujuan komersiil saja tanpa memuaskan penonton. Film ini hanya bernilai –lebih baik satu peringkat dari ”Street Fighter : The Legend of Chun-Li”, review. Baik pruducer ataupun director hanya meneriakkan, “hey.. tontonlah!! Film ini dari novelnya Dan Brown lho!! Anda gak pingin ikut ambil bagian dari sejarah ini ta??!! Syutingnya di Vatikan lho, kota nya indah. . .apalagi bangunannya, bersejarah banget!!”.

Seperti biasa, ketika saya ingin mencaci sebuah film, saya tidak akan menceritakan kisah film tersebut. Lagipula saya yakin semua orang sudah rame menontonnya. Jadi berikut catatan saya :

A. Dari segi Cerita :

1. Pentingkah Robert Langdon dimintai tolong oleh kepolisian “Vatican City” untuk mencari kelompok Illuminati?? Jawabannya adalah tidak penting jika caranya seperti di film. People, ini Robert Langdon, bukan keturunan Sherlock Holmes, ia adalah ahli simbologi yang terkenal ‘anti-kristus’ di kalangan gerejawan Katolik Roma, sejak film “Da Vinci Code”. Jangan dibuat seolah-olah kontradiksi itu tidak ada. Jadi, ketika ia hendak dilibatkan, seharusnya dengan unsur “ketidak-sengajaan”. Entah itu ketika ia diundang untuk mempertanggung-jawabkan karyanya tentang ‘Illuminati’ atau apalah, yang penting bukan direkrut sebagai detektif.

Mengacu pada novelnya, Robert Langdon terlibat konflik tersebut secara tidak sengaja. Gara-gara –awalnya ia diundang Maximillian Kohler, Direktur CERN (Conseil Europeean pour la Recherche Nucleaire), untuk bertandang ke Swiss guna memberikan penjelasan tentang arti ’Illuminati’. Karena Leonardo Petra, yang merupakan sahabat baik sang direktur sekaligus ilmuwan yang menciptakan anti-materi –yang juga ayah dari Vittoria Petra, dibunuh dan dadanya distempel logo ’Illuminati’.

Max Kohler bukanlah ’pecinta Tuhan’, jadi tindakannya mengundang Langdon adalah tindakan yang wajar, tidak se-kontradiksi di film, dimana ’ahli-kristus’ meminta bantuan ’anti-kristus’ untuk mengejar pembunuh yang juga anti-kristus, aneh kan??!. Satu lagi gambaran wajar di novelnya, Max Kohler menemukan nama Robert Langdon dari situs Langdon yang mengandung kata ’Illuminati’, itupun setelah ia meng-google kata ’Illuminati’. Setelah itu Kohler baru mempercayai dan memilih situs tersebut, karena merujuk ke universitas terpandang di dunia, Havard dan Oxford.

2. Suatu hari dimana anti-materi itu dibuat, saat itu juga hilang. Dan anehnya, keesokan hari itu juga bertepatan dengan acara ”Il Conclavo”, pertemuan kardinal dari seluruh dunia di Vatikan untuk memilih Paus yang baru. Jadi setidaknya ada jeda sehari bagi si Hassasin (pembunuh / eksekutor ’Illuminati) untuk menjalankan aksinya. Benar-benar suatu kebetulan yang sempurna!! Bagaimana kalau sebelumnya anti-materi gagal dibuat? Akankah si Hassasin menunggu sampai anti-materi berhasil dibuat?? Apakah harus memakai anti-materi untuk mengancam Vatikan? Kalau pakai bom waktu bagaimana? Tidak boleh? Granat? Ranjau?? Apa itu anti-materi? Hell yeah.

Menurut anda mungkin beberapa pertanyaan diatas adalah ’bodoh’ dan konyol, karena ini cuma sebuah film. Jadi ya terserah sutradara. Namun jika pertanyaan itu tidak terjawab, kekontrasan hubungan antara anti-materi dan eksistensi Vatikan akan tersamar, benar kan?? Benar, di film ini ’sesuatu’ yang dijadikan ’point of interest’-nya cuma aksi ke-detektif-an Robert Langdon. Padahal seharusnya yang diangkat adalah ’makna dan faedah’ anti-materi, karena akan menjadi titik awal perseteruan kaum Illuminati dan Gerejawan Vatikan –di era modern. Sedangkan aksi detektif-detektifan Robert Langdon hanyalah sekedar ’bumbu’ yang tidak wajib.

Sebenarnya banyak lagi ’sesuatu’ yang tersamarkan dan ’nyeleneh’ di film ini, namun saya tidak bisa menceritakannya karena terlalu sedih. Sekali lagi, lebih baik anda menikmati novelnya daripada film ini. Sebagai penggemar film konspirasi, hati dan otak saya serasa ditusuk-tusuk dari belakang. Dan saya yakin, Dan Brown pun pasti sedang ’menangis’ saat ini.

B. Detil-detil :
1. Di film ini Robert Langdon tidak tahu bahasa latin, scene ketika membaca simbol yang terdapat pada lampiran Galilei, di ruang arsip Vatikan, ia di bantu Vittoria. Hey.. Robert Langdon ahli simbologi dari Harvard tidak mengerti bahasa latin?? Bukankah wajib hukumnya bagi ahli simbologi, apalagi yang kompeten dengan sejarah kuno Gereja Katolik, untuk (bisa) berbahasa latin ataupun bahasa Itali?? Atau mungkin karakter Langdon sudah bertransformasi dari ahli simbologi menjadi detektif? Sehingga salah satu kemampuan wajib yang harus dimiliki ahli simbologi ’harus’ dihilangkan??.

2. Ewan McGregor adalah Carlemengo!! Ok, menurut novel, Carlemengo adalah kepala rumah tangga sekaligus ’tangan kanan’ Paus, sosok pria berwajah blasteran ’Swiss dan Italy’. Berusia sekitar 30 tahun yang memiliki sifat fanatisme berlebih terhadap Kristus yang menyebabkan dirinya seringkali bertafsiran keliru, sehingga menjadikannya memiliki dua karakter berbeda, kadang lembut – kadang kejam, phsyco. Jadi kenapa harus Ewan McGregor yang mendapat peran ini?? Gak ada yang lebih berwajah ’Swiss dan Itali” dikit?? E.G. kan belum pernah memerankan tokoh ’phsyco’? E.G. tidak pernah cocok berperan ’watak’, E.G hanya cocok berperan sebagai ’playboy / penggoda’. Lihat saja karakter Carlemengo di film ini, nyaris tidak jelas. Parahnya, perhatikan air wajah Carlemengo saat ngobrol dengan Vittoria, terlihat seolah-olah ingin ’meniduri’ Vittoria saja.

Menurut saya, yang seharusnya memenuhi sosok karakter Carlemengo ini adalah Hayden Christiensen (sedikit subyektif), yang berwajah ’rapuh’ dan dengan backgorund ”Shattered Glass”, ”Anakin Skywalker” dan ”Awake”. Atau Ryan Phillips juga boleh.

3. Setting ’kejar-kejaran’ di film ini tidak mampu diterapkan dalam time-line yang memadai. Kadang terlalu cepat, kadang sangat lambat dan membosankan. Jadi kalau ada yang ngomong film ini sepadan dengan National Treasure, berarti ia salah besar. Ketika time-line tidak memadai, otomatis akan berpengaruh pada pengambilan plot (perpindahan gambar / scene).

Salah satu contoh scene adalah ketika berada di ruang arsip Vatikan, setelah mendapat ”Diagramma della Verita” karya Gelileo, Langdon mengeluarkan arsip tersebut –dari cover-nya dan meletakkannya ke atas meja. Setelah itu malah ngobrol dengan Vittoria, intonasinya pun ringan. Kontan arsip yang harus diperiksa –yang didepannya, lama dibuka. Padahal ia dikejar oleh dua waktu, waktu pembunuhan beraksi dan waktu habisnya oksigen (sebelum di re-charge) di ruang arsip. Benar-benar memuakkan, secara tidak langsung ketika saya tonton adegan ini (dan adegan-adegan sama lainnya), saya-pun jadi bosan. Kenapa mereka tidak ngobrol sambil sambil melakukan sesuatu?? Bandingkan dengan adgean di National Treasure?! Pasti lebih rapi dan wajar.

Dengan beberapa adegan ngobrol –yang seakan buang-buang waktu, maka kompensasinya ditimpakan ke beberapa adegan lain. Misalnya, adegan di dalam mobil yang berlebihan, ngebut gak jelas, akhirnya pihak polisi yang ikut pun sering telat datang ke TKP. Waduuhh bos. . .

4. Vittoria says,”I’m Italian Citizen. . .bla..bla..bla”. Vittoria sadar tidak kalau dia berada di negara berbeda?? Di satu adegan ketika, komandan Richter menyita diary temannya (yang terbunuh). Yang jadi pertanyaan saya adalah dapat darimana inspirasi penulis skenario untuk memunculkan statement tersebut. Padahal di novel-pun tidak ada. Hell..!! Bayangkan, seperti halnya ketika anda sedang berulah di Timor-leste dan ditegur petugas, terus anda bilang.”Saya adalah orang Indonesia, walaupun saya ke luar negeri, peraturan yang saya anut adalah peraturan Indonesia”. Bodoh bukan??

5. Dan terakhir, detil yang saya tangkap dari film ini, stempel kelompok Illuminati ada 5 buah, yaitu : stempel Earth, Air, Fire, Water, dan yang terakhir saya tidak paham. Stempel kelima tersebut sangat tidak jelas bagi saya, sebagai orang awam. Saat itu saya mencoba mencari di ’google’-pun tidak ada. Ada yang tahu??

Menurut novelnya, stempel kelompok Illuminati itu ada 6 (enam) buah, yaitu : pertama adalah Illuminati itu sendiri, yang kedua adalah ’Earth’, ketiga adalah ’Air’, keempat adalah ’Fire’, kelima adalah ’Water’, dan yang keenam adalah stempel yang paling sempurna (bentuk ke-simetrisannya tidak tertandingi oleh stempel lainnya) –yaitu stempel ’berlian Illuminati’, gabungan antara ’Earth-Air-Fire-Water”.


Selain hal tersebut diatas, ada beberapa karakter kunci yang sengaja dihilangkan untuk membuat tujuan dasar cerita ”Angel and Demon” menjadi tersamarkan. Yaitu : Leonardo Petra (ayah dari Vittoria Petra) dan Maximillian Kohler. Keduanya adalah seorang ilmuwan, bersahabat dan saling mendukung, dimana Leonardo Petra memiliki misi untuk menciptakan anti-materi guna membuktikan bahwa sebenarnya science adalah sebuah alat untuk mencapai Tuhan. Merujuk suatu wacana bahwa manusia dan seisi dunia diciptakan dari ’sesuatu yang tidak pernah ada’ –yaitu anti-materi. Dan hal inilah yang ditentang keras oleh Charlemengo Patrick McKenna, karena menurut dia pekerjaan Tuhan hanya bisa dilakukan di dalam hati, bukan di suatu tempat manapun selainnya. Moralitas seseorang tidak dapat meningkat secepat ilmu pengetahuan, spiritual umat manusia tidak mampu bergerak lebih cepat untuk menguasai kekuatan yang mereka miliki. Dan oleh karenanya, ilmu pengetahuan harus dihapuskan, untuk mencapai keajaiban-keajaiban yang hanya didapat dengan menyembah-Nya.

Yup.. that’s all sedikit catatan dari saya. Sungguh film ini sangat dangkal, entah dibuat seperti itu atau tidak, yang pasti hasil akhirnya sangat mengecewakan penggemarnya (penggemar novel Dan Brown) –seperti saya. It’s another film sing aji mumpung. Di akhir cerita, seharusnya film ini mampu memunculkan dualisme opini antara 2 (dua) hal yang bertentangan, dimana keduanya memiliki potensi yang sama besar untuk menjadi ’Angel’ / penyelamat, ataupun sama-sama berkesempatan untuk menjadi ’Demon’ / perusak moral.

Terakhir, tidak lupa saya mau menyapa duet Ron Howard – Akiva Goldman, ”Y’opo Kabare Rek? Piye iki?!! Masak sampeyan bisa membuat The Da Vinci Code, A Beautifull Mind dan Cinderella Man –menjadi sebuah ‘goncangan’, tapi kok gak bisa menyelamatkan film yang satu ini menjadi lebih bermakna??!!”. “Apa gara-gara Da Vinci Code banyak menuai protes keras, sehingga akhirnya anda menyamarkan kontroversi film ini?? Dan merendahkan level anda?”.

0 comments: