Selasa, 30 Juni 2009

Prestasi Olah Raga Indonesia Menyedihkan.

Dua kali ajang besar pada dunia olah raga tanah air Indonesia yang akhir-akhir ini digelar, terjadi dua kali peristiwa beruntun yang sama-sama menyedihkan. Pertama di ajang Indonesia Open dan yang kedua di Final Copa 2009. Di kedua ajang tersebut, Indonesia sekali lagi menunjukkan prestasi negatif. Siapa yang salah??

Pertama, di semifinal single pria Indonesia Open, Sony versus Taufik, jelas sekali terlihat bahwa Pelatnas Bulu Tangkis dikalahkan oleh Taufik Hidayat, yang bertindak sebagai pemain professional. Dimana peristiwa ini menjelaskan bahwa Pelatnas –secara opini tidak ’professional’. Dan sekali lagi, saya ataupun kita, telah ter’buta’kan untuk menyikapi hal ini.

Taufik Hidayat adalah sosok pebulu-tangkis yang mampu bersikap profesional, dan pilihannya untuk meninggalkan Pelatnas adalah keputusan yang layak di-acungi jempol. Dimana ia telah mampu mencium ’sesuatu’ –yang ia yakini sebagai ’sesuatu’ yang negatif dalam tubuh Pelatnas, dan mencoba untuk merubahnya namun tak kuasa, maka mau-tidak-mau ia harus meninggalkannya. Demi karir dan kecintaannya terhadap dunia Bulu Tangkis. Begitupun juga sikap yang akan kita ambil sebagai manusia normal, jika dihadapkan dengan kenyataan seperti itu. Terus yang bagaimana ’profesional’ itu? Entahlah. Yang pasti progres Pelatnas belum mampu menuju kearah yang lebih baik.

Catatan : dalam kejuaraan bulu tangkis bergengsi ini, atlit indonesia tidak ada yang menjadi juara, dan ironisnya kita (indonesia) adalah tuan rumahnya.

Kedua, peristiwa Final Copa 2009 yang mempertemukan kesebelasan Sriwijaya FC dengan Persipura, dimana Persipura melakukan WO di menit 60 babak kedua. (ulasan lebih lanjut, disini). Kejadian ini menegaskan bahwa PSSI tidak mampu mengobati luka pada sistim persepakbolaan tanah air –yang selama ini sering muncul nanah. Ketahuilah bahwa kejadian ini sering muncul, seiring ketidakpedulian PSSI terhadap isu sportivitas dan fairplay. Parahnya, PSSI selalu saja menyalahkan pemain dan official kesebelasan yang bersangkutan, bukan wasit ataupun official lapangan. Entah PSSI yang tidak paham aturan FIFA ataukah hanya PSSI yang tidak sadar diri. Padahal tindakan-tindakan negatif pemain kesebelasan (yang dirugikan) adalah reaksi, bukan aksi yang layak diberi konsekuensi. Salah pendisiplinan inilah yang kerap kali diperagakan PSSI, jadi wajar bila kejadian seperti ini akan terus dan terus terulang lagi.

People, dewasa ini kita telah melihat bersama-sama bahwa prestasi atlit-atlit tanah air Indonesia menunjukkan penurunan progress. Setujukah anda?? Sekali lagi siapa yang salah??

Susah sekali bukan –untuk menunjuk siapa yang salah?? Dan sebaiknya kita tidak usah terlalu mempersoalkan ’siapa yang salah’. Karena yang pasti, tingkat skill dan ability atlit-atlit tanah air kita dari dulu ya wes ngono-ngono ae, gak ono perubahan sing signifikan.. Kalaupun dulu sering berprestasi di kejuaraan internasional terutama di Asia, itupun karena lawan-lawannya masih se-level dengan kita. Yaitu masih dalam level ’negara berkembang’. Sedangkan saat ini, ketika negara-negara tetangga mulai menapaki (naik) era modernisasi olah raga dan lepas dari sebutan ’negara berkembang’, lha kok kita malah jatuh menjadi ’negara berutang’?!!. Pada akhirnya, level ’skill’ dan ’ability’ atlit-atlit tanah air kita menjadi ketinggalan jauh dengan ’negara-negara tetangga yang sudah maju’. Terus apa solusinya?? Yo emboh mas, iku urusane negoro..

Yang harus kita lakukan hanyalah berdoa, karena saya yakin ”walaupun setitik, harapan itu pasti ada”. Tapi ya tidak sekarang, saya optimis –mungkin sepuluh tahun lagi..

0 comments: