01 AM - 30 June 2009
Perutku terasa sakit, terasa sebah.. padahal hari sebelumnya, kondisi normal-normal saja. Aktivitas lancar dan makan pun teratur. Atau mungkin hanya pikiranku saja yang sedang kacau? Sehingga mengganggu sistim pencernaan dan pernapasanku. Yang pasti saat ini –yang ada dipikiranku adalah ” Ada Apa Lagi Dengan Dunia Sepak Bola Tanah Air Indonesia??!”Ternyata di minggu sore, ada even final Copa Indonesia 2009, antara Sriwijaya FC lawan Persipura.. dan seperti biasanya, bagi saya, menonton pertandingan liga atau final sepak bola Indonesia adalah sesuata yang ’memuakkan’, kenapa? Karena bagi saya, pagelaran sepak bola di Indonesia selama ini kurang lebih –sama seperti pertunjukan ’reality show’ di televisi swasta, sama-sama dicurigai ada sutradara, kreator dan pengarah. Dan terus terang saya bersikap skeptis selama ini, sejak kejadian memalukan di semifinal Piala Tiger dulu (entah tahun berapa itu), ketika mempertemukan kesebelasan Indonesia dan Thailand. Dimana pada even tersebut, striker timnas menjadi bek tengah thailand, dan bek tengah timnas menjadi striker thailand, begitu juga sebaliknya. Sungguh memuakkan bukan??
Kembali pada pertandingan Final Copa Indonesia 2009 –yang ditayangkan langsung oleh salah satu televisi swasta, jujur saya sengaja untuk tidak menontonnya ataupun berniat untuk mengikuti beritanya, saya prefer mempersiapkan diri agar bisa nonton Final Piala Konfederasi antara Brasil kontra USA pada dini harinya.
Dan secara tidak sengaja, hari ini sekitar pukul 11 PM, saya melihat berita malam, dan saya sangat terkejut (lagi, padahal saya mencoba untuk tidak terkejut, mungkin masih sayang dengan dunia sepak bola Indonesia). Dimana di pertandingan tersebut, Persipura melakukan ’Walk Out’ setelah merasa ’dirugikan wasit’ –di menit 60 babak kedua. Ada apa?? Dan ternyata lagi-lagi aksi wasit yang menjadi pemicunya (seperti selama ini). Dan saya rasa Persipura dengan segenap officialnya telah melakukan hal yang benar. Harus ada reaksi seperti ini lagi, harus ada ’agent of change’ dalam dunia sepak bola kita, harus ada demo besar-besaran. Kenapa tidak?!! Entah wasitnya terlalu bodoh atau di’suap’, saya tidak tahu, yang pasti keputusannya sangat tidak bertanggung jawab!! Lihat saja ketika wasit tersebut diwawancarai oleh salah satu televisi swasta, dengan enteng dan tersenyum remeh, dia menjawab bahwa keputusannya adalah ’benar’. What the F**K??! Sangat irrasional, dengan segala kompetensinya selama 16 tahun menjadi wasit, dia mengklarifikasi :
1. Dia menganggap bahwa kiper, Entah-rotinsulu tidak melakukan pelanggaran di kotak penalti karena dia mengambil bola dengan tangannya. Hah??!!
2. Bola tendangan yang mengarah ke gawang Sriwijaya FC yang membentur tangan salah satu pemainnya, bukanlah handsball karena tangannya tidak aktif. Dan hal ini telah ditentukan FIFA dalam regulasinya.
Menurut anda bagaimana? Benar seperti itu?? Bagi saya, ini adalah sebuah klarifikasi yang ingin membodohi jutaan rakyat Indonesia, seperi layaknya reality show terkini dan sinetron arab-kejawen –yang mengklaim bahwa rakyat indonesia, semuanya adalah BODOH, ndeso, pikirane gak maju blass!!
Wak gus atau Cak Purwanto atau sebutan lain yang lebih pantas, wasit pertandingan tersebut, sampeyan iki nduwe penyakit, opo pas iku ae sampeyan sakit!! (anda punya penyakit atau pas waktu itu saja anda lagi sakit!!). Tolong jawab JUJUR!! Sebagai sosok yang bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anda suka dengan dunia Sepak Bola? Anda tahu dan paham Sepak bola? Sejak kapan anda mengikuti pertandingan Sepak Bola? Tahu efek dan tanggung jawab ketika anda memimpin sebuah pertandingan Sepak Bola? Pernahkah anda di-dzalimi??
Saya adalah penikmat sepak bola sejak saya kecil, hampir 15 tahun saya mengikuti perkembangan sepak bola. Entah itu even besar internasional, ataupun Nasional. Dalam kurun waktu tersebut, saya banyak berharap perkembangan sepak bola tanah air menjadi maju. Namun nyatanya, harapan saya (mungkin juga harapan jutaan rakyat indonesia) telah dipupuskan oleh realitas kemarin. Hati saya telah menjadi beku, terkubur banyak sedih-sedih yang terkumpul –terus-menerus.
Dan tanpa banyak cerita lagi, berikut ulasan saya :
1. Kiper entah-rotinsulu memang berniat mengambil bola dengan tangannya, tetapi cara yang ditunjukkannya terlihat ’ingin menciderai pemain lawan’, lihat saja ketika ia sengaja membenturkan tubuhnya ke arah kaki pemain lawan dengan keras. Bukan bola yang diambil, tapi kaki. Dengan sengaja ia menerjang dan memblokir paksa area penguasaan bola pemain lawan, dengan sekujur tubuhnya.
Saya tidak mengada-ada, karena saya pernah jadi kiper dan pernah terkondisi seperti ini. Dan sah jika cara ini diterapkan di even galadesa, bukan even nasional. Dan akibatnya jika pemain lawan tidak terjaga (kuda-kuda kaki tidak kuat dan seimbang), maka kaki pemain lawan akan patah, minimal keseleo. Lihat saja kondisi saat itu antara pemain lawan dan kiper entah-rotinsulu, tidak 50-50, namun kurang dari 10 persen untuk entah-rotinsulu, karena bola masih di area penguasaan pemain lawan.
Jadi tidak ada alasan lain, wasit harus memberikan hadiah penalti pada kesebelasan Persipura.
2. Kejadian kedua, murni handsball!!. Regulasi FIFA mengenai tangan pasif ketika bola menyentuh tangan dan tidak handsball, memang benar adanya. Namun sebagai manusia yang ber-nurani dan ber-pikiran, saya rasa hal itu tidak wajib diterapkan. Lihat tindakan wasit professional FIFA luar negeri, dalam keadaan ’membahayakan’ atau 50 persen keatas akan tercipta gol, maka wasit berhak mengakui adanya handsball, walaupun tangan yang tersentuh adalah pasif. Dengan catatan, tangan bersifat pasif jika membentuk sudut dibawah 90 derajat dengan pinggang atau terkesan disembunyikan, begitu sebaliknya akan menjadi aktif jika tangan membentuk sudut sama+diatas 90 derajat atau terkesan menghalangi laju bola.
Jika anda tidak percaya hal ini, lihat ulang rekaman pertandingan Piala Konfederasi (bisa dicari diinternet), ketika kondisi –tersebut diatas terjadi pada pertandingan pembuka Brasil vs USA, dimana wasit mengakui handsball tangan pasif pemain USA di kotak penaltinya. Wasit telah memberikan hadiah penalti bagi brasil dan pemain USA mendapat kartu merah. Menurut saya hadiah penalti itu wajib, sedangkan kartu merah adalah murni keputusan wasit untuk mempertimbangkan unsur kesengajaan atau tidak.
Dan jika anda masih belum percaya juga, atau masih memungkirinya, maka wajib bagi anda untuk googling, atau tanyakan langsung ke FIFA, ”Berapa banyak kejadian seperti hal diatas, dimana wasit memberikan hadiah penalti??” dan bandingkan prosentasenya terhadap keputusan wasit yang tidak sependapat. Saya yakin anda akan terkejut, namun jangan terlalu heran, karena di dunia sepak bola tanah air, kekonyolan adalah wajar dan intelegensi adalah relatif.
Jadi kesimpulannya, STOP bodohi jutaan rakyat Indonesia. FIFA membuat regulasi-regulasinya, bukan untuk ditelan langsung, akan tetapi untuk dijadikan acuan / pondasi guna pembangunan keputusan wasit lebih lanjut –yang lebih kompeten dan professional. Menyangkut kejadian diatas (no.2), alasan FIFA menerapkan aturan tersebut semata-mata untuk kelanjutan tempo permainan, agar menghapus unsur pen-sengaja-an terhadap handsball, dan sah ketika kondisi di bawah 50 persen –tidak akan tercipta gol, serta pertimbangan-pertimbangan baik lainnya.
Last, dengan menurunnya tingkat kualitas penyelenggaraan even sepak bola dalam negeri oleh PSSI, BLI atau badan lain (entah apapun itu namanya) dan dengan tidak adanya tindakan tegas pengurus untuk meningkatkan progress, dan peng-koreksian diri, serta merombak sistim yang salah selama ini. Maka dengan tegas pula saya mendukung tindakan PERSIPURA dan segenap Officialnya, serta menuntut ’ketidak-profesionalan’ wasit. Tentunya untuk mereformasi sistim kearah yang lebih baik.
Sekali lagi, PERSIPURA melakukan reaksi, bukan aksi. SALOR, by Agun Trisdianto.
0 comments:
Poskan Komentar